Rahasia Langsing: Makan Kenyang Tanpa Hitung Kalori

Menghitung asupan kalori ternyata bukanlah kunci utama, baik dalam menurunkan maupun mempertahankan berat badan ideal Anda. Berdasarkan studi tentang diet berskala besar di Eropa, cara terbaik memangkas berat badan adalah makan sekenyangnya, asalkan menu yang disantap adalah makanan yang tepat, seperti daging, kacang-kacangan, dan pasta dingin. 
Suatu riset di Inggris menyimpulkan bahwa metode diet berbasis penghitungan kalori selama ini ternyata tidaklah efektif. Untuk membuat badan tetap langsing, seseorang justru harus menyantap makanan yang tepat tanpa pembatasan jumlah.
 

Kesimpulan itu diambil para peneliti setelah membandingkan lima jenis tipe diet. Mereka menemukan bahwa model paling pas dan efektif dalam pelangsingan adalah pola diet tinggi protein plus indeks glikemik (IG) rendah, yang di dalamnya terdapat jenis makanan seperti daging tanpa lemak, ikan, telur, dan beberapa jenis kacang-kacangan.
Diet ini juga berpatokan pada karbohidrat dengan IG yang rendah, seperti roti gandum dan nasi merah. Makanan-makanan seperti ini dicerna oleh tubuh secara lambat dan membuat perut kenyang lebih lama. Kadar gula darah pun tetap stabil.
Menurut para peneliti, makanan-makanan dingin atau dibekukan juga akan dicerna secara lambat dan memiliki IG lebih rendah. Adapun pasta dingin mengandung lebih banyak karbohidrat tidak larut atau disebut resistant starch, yang dapat memperlambat pencernaan.
Ilmuwan yang menggagas riset ini, Profesor Arne Astrup dari Universitas Kopenhagen, Denmark, mengklaim bahwa temuannya dapat menjadi salah satu solusi menekan wabah obesitas.
"Selama bertahun-tahun kami telah memberi nasihat keliru tentang bagaimana menurunkan berat dan mencegah kegemukan. Memperhitungkan kalori tidaklah berhasil dan mungkin membuat masalah semikin buruk karena tidak melihat jelas tipe-tipe berbeda dari makanan," ujarnya.
Komposisi diet yang baru ini, lanjut Astrup, diyakini lebih efektif membantu mempertahankan bobot ideal. "Diet ini mengandung protein lebih tinggi dan makanan-makanan dengan IG yang rendah, serta Anda boleh makanan sebanyak yang Anda mau," ujar Astrup yang memublikasikan risetnya dalam jurnal The New England Journal of Medicine.   Astrup dan timnya memantau 772 keluarga di Eropa yang terdiri dari 938 orang dewasa dan 827 anak. Relawan dewasa yang gemuk dan mengidap obesitas diwajibkan mengikuti diet tradisional senilai 800 kalori per hari selama 8 pekan dan berhasil menurunkan rata-rata 10 kg. Mereka kemudian diminta memilih salah satu dari 5 jenis tipe diet untuk melihat model mana yang paling efektif menurunkan berat badan.
Lima opsi diet tersebut adalah diet rendah protein dan tinggi IG, rendah protein dan rendah IG, tinggi protein dan rendah IG, tinggi protein dan tinggi IG, sedangkan kelompok kelima tidak diberikan batasan panduan makanan IG.
Hasil riset menunjukkan, kelompok diet tinggi protein rendah IG tercatat sebagai kelompok yang mengalami penambahan berat paling minim, sedangkan kelompok rendah protein tinggi GI paling banyak mengalami kenaikan berat dengan rata-rata 1,5 kg.  Anak-anak juga mendapat manfaat dari pola diet tinggi protein rendah IG meski mereka tidak secara khusus menjalani diet. Pada akhir riset, jumlah anak yang mengalami kegemukan menurun hingga 39 persen.