5 Tips Pemakaian "Treadmill" untuk Pemula

Treadmill biasanya menjadi favorit para pemula yang mulai meminati olahraga di pusat kebugaran. Siapa pun bisa menggunakannya tanpa perlu keahlian yang khusus. Namun, semudah apa pun jenis olahraga itu, Anda tetap perlu tahu pedoman yang benar.
Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai penggunaan treadmill khususnya bagi Anda pada pemula, agar latihan berjalan lebih efektif dan menyenangkan:

1. Kenali peralatan Anda
Langkah pertama agar latihan berjalan lancar adalah Anda harus mengetahui jenis peralatan yang Anda gunakan. Oleh karena itu, sebelum mulai menggunakannya, Anda harus memiliki pengetahuan yang jelas tentang sistem kerja dan fungsi dari alat tersebut. Anda juga bisa meminta bantuan kepada orang yang sudah terbiasa menggunakan treadmill untuk memberikan contoh ketika berjalan di atasnya. Hal ini terutama berlaku jika Anda belum pernah sama sekali menggunakannya.
2. Pemanasan
Pemanasan adalah hal dasar yang harus Anda lakukan ketika melakukan sebuah program latihan, tak terkecuali treadmill. Sebelum Anda berjalan diatas treadmill, Anda harus mendapatkan sistem kardiovaskular dan otot tubuh siap untuk melakukan latihan. Caranya, bisa dengan melakukan jalan cepat terutama di pagi hari saat tubuh membutuhkan sinar matahari. Setelah berjalan cepat, Anda bisa merentangkan otot kaki dengan lembut. Ini akan membantu Anda pada saat memulai latihan yang sesungguhnya.
3. Perhatikan langkah
Salah satu unsur terpenting yang harus Anda ketahui sebelum berjalan diatas treadmill adalah perhatikan cara melangkah. Berjalan diatas treadmill tidak sama seperti berjalan pada umumnya. Berjalan di treadmill memberi Anda kesempatan untuk menilai diri Anda sendiri apakah yang Anda lakukan sudah benar atau tidak. Tentu saja, ini hanya bisa diketahui jika Anda menggunakan cermin untuk melihat refleksi kaki saat berjalan diatas treadmill.
Selain itu, Anda juga bisa membuat rekaman video sesi latihan dan menganalisanya frame by frame. Anda juga dapat meminta bantuan pelari yang lebih ahli dan mengatasi permasalahan Anda.
4. Gunakan derajat incline
Mengatur treadmill pada posisi mendaki sebesar 1-3 persen dapat meningkatkan aktivitas kekuatan otot panggul dan paha bagian belakang sehingga akan membuat otot-otot tersebut makin kuat, membakar lebih banyak kalori dan meningkatkan stamina.
5. Buat latihan menyenangkan
Salah satu alasan utama banyak orang malas melakukan latihan treadmill adalah faktor kebosanan. Anda bisa mencegah kebosanan tersebut dengan cara mendengarkan musik atau mengubah jadwal dan program latihan.
Sumber :

"Olahraga Hijau" Baik untuk Kesehatan Mental

Sebuah riset menyatakan, olahraga selama lima menit di taman atau ruang hijau dapat meningkatkan suasana hati (mood) dan kesehatan mental. Studi ini dipublikasikan dalam American Chemical Society, journal Environmental Science & Technology.
Dalam studi tersebut, Professor Jules Pretty dan Jo Barton dari Interdisciplinary Centre for Environment and Society, Department of Biological Sciences University of Essex Inggris, menjelaskan bahwa melakukan aktivitas fisik di taman (ruang terbuka hijau) dapat menurunkan risiko penyakit mental dan meningkatkan kesehatan.

Menurut peneliti, sampai sekarang tak seorang pun tahu berapa lama harus menghabiskan waktu di ruang hijau untuk mendapatkan manfaat kesehatan.
"Untuk pertama kalinya, dalam literatur ilmiah kami telah mampu menunjukkan bahwa ada hubungan antara keduanya, di mana efek positif alam sangat baik untuk kesehatan mental manusia," kata Pretty.
Peneliti menganalisa 1.252 orang (dari berbagai usia, jenis kelamin dan status kesehatan mental) yang diambil dari sepuluh studi di Inggris. Para penulis mampu menunjukkan bahwa aktivitas di ruang hijau (alam) membawa perbaikan kesehatan mental dan fisik.
Aktivitas yang dimaksud cukup beragam dan sederhana seperti berjalan, berkebun, bersepeda, memancing, berkuda dan bercocok tanam. Perubahan kesehatan terbesar terjadi pada kaum muda dan mereka dengan gangguan mental, meskipun orang-orang dari segala usia dan kelompok sosial juga diuntungkan.
Menurut peneliti, semua lingkungan alam yang hijau dapat memberikan manfaat, termasuk taman di perkotaan.
"Kami tahu bahwa perbaikan kesehatan mental dalam jangka pendek akan memberikan manfaat perlindungan kesehatan jangka panjang. Jadi kami percaya bahwa akan ada manfaat besar untuk individu, masyarakat dan layanan kesehatan jika semua kelompok orang mau mengobati diri sendiri dengan olahraga hijau," tambah Barton.

Susah BAB, Awas Kanker Usus!

BILA Anda sering susah buang air besar, sering sakit perut atau sembelit sebaiknya waspada. Bisa jadi  gangguan yang Anda alami merupakan salah satu bentuk gejala kanker usus besar atau kanker kolorektal.

Seperti diungkap Dr Adil Pasaribu, Sp.B.KBD, dokter spesialis bedah kanker dari RS Dharmais Jakarta, sebagian orang saat ini mengabaikan gejala sakit perut, susah buang besar dan perubahan siklus buang air besar.  Padahal, gejala-gejala itu merupakan bagian dari pertanda adanya penyakit kanker kolorektal. 


¨Kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa kanker dapat dipicu oleh gejala-gejala yang dianggap remeh seperti cara diet yang salah yang menyebabkan kebiasaan buang air besar dan sembelit, ungkap Dr. Adil di Jakarta, Kamis (28/2).

Menurut Aidil, perubahan siklus buang air besar memang merupakan gejala yang patut diwaspadai dalam mengantisipasi kanker kolorektal. Perubahan yang tidak wajar atau siklusnya melebihi waktu transit harus dicurigai sebagai gejala.

¨Normalnya, waktu transit yang dibutuhkan makanan dari sejak  masuk hingga dikeluarkan lagi  melalui anus tidak melebihi 48 hingga 72 jam.  Jika waktunya melebihi angka tersebut, sebaiknya harus berhati-hati.

Selain perubahan siklus buang air besr, tanda lainnya yang bisa dideteksi sebagai gejala kanker usus besar adalah ditemukannya darah pada kotoran saat buang air besar. Tanda lainnya adalah penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, rasa sakit di perut atau bagian belakang, perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar dan tidak ada rasa puas dan kadang-kadang dapat diraba adanya massa atau tonjolan pada perut.
Prevalensi meningkat
Kanker kolorektal sendiri merupakan salah satu jenis kanker yang jumlah kasus atau tingkat prevalensinya cukup tinggi. Di Indonesia sejauh ini memang belum ada data akurat mengenai jumlah kasus secara rinci. "Tetapi di seluruh dunia, berdasarkan laporan terakhir, kanker kolorektal menempati urutan kedua dari daftar peenyakit kanker yang paling banyak diderita," ujarnya.

Meski belum ada data akurat, kata Adil, kasus kanker kolorektal di Indonesia cenderung mengalami peningkatan seiring dengan berubahnya gaya hidup masyarakat. Indikasi peningkatan itu misalnya dapat tercermin dari sebuah riset seorang  peneliti di Semarang yang menemuan adanya kenaikan angka kejadian dari tahun 1970 hingga 1980.

"Kalau sebelumnya angka kejadian per 1000 itu rata-rata pada perempuan 2,4 dan pada pria 2,2, ternyata kemudian ada peningkatan menjadi 3,1 hingga 3,2.  Jika di tanah air ada peningkatan kasus, sebaliknya di negara maju angka kejadian kanker kolorektal justru menurun,"  terang Adil.

Di rumah sakit kanker Dharmais Jakarta sendiri, lanjut Adil, kanker kolorektal masuk dalam empat besar dari 10 jenis kanker yang paling banyak dialami para pasien.  Kanker kolorektal banyak menyerang di usia 55-64 tahun. Namun saat ini cukup banyak juga usia 35-44 tahun yang telah menderita kanker usus besar dan rektum. Rata-rata mereka yang berobat menjadi sulit diobati karena sudah dalam stadium lanjut. 

"Oleh sebab itulah, penting artinya untuk mengetahui gejalanya dari awal dan menjaga kesehatan termasuk menghindari gaya hidup yang dapat memicu risiko terjadinya kanker ini seperti pola makan tak sehat, stres, merokok dan alkohol," jelasnya.

idungjambu

Awas Kanker Usus di Balik Lezatnya Sosis

SIAPA tak kenal kelezatan sosis, makanan daging olahan ini sudah sangat akrab di lidah masyarakat dunia termasuk Indonesia. Namun, siapa sangka di balik kenikmatan makanan yang kaya gizi ini, terkandung lemak dan kolesterol tinggi sehingga bisa mengganggu kesehatan. 

Bahkan para ahli di Inggris belum lama ini kembali memperingatkan bahwa konsumsi sebatang sosis sehari dapat meningkatkan risiko kanker usus. Maka dari itulah, Anda sebaiknya berhati-hati mengonsumsi sosis atau produk daging olahan.


Seperti dilaporkan surat kabar The Star Jumat (4/4), Martin Wiseman dari World Cancer Research Fund (WCRF), memperingatkan konsumen akan ancaman penyakit kanker bila terlalu sering mengonsumsi makanan nan lezat ini.  Ia juga mengingatkan konsumen untuk mewaspadai bacon dan menyatakan bahwa dengan hanya mengonsumsi 50 gram makanan daging olahan setiap hari dapat meningkatkan risiko mengidap kanker hingga 20 persen.
 
Hampir setahun lalu, Wiseman juga menyuarakan peringatan yang sama akan bahaya terlalu sering mengonsumsi daging olahan ini termasuk di dalamnya ham, pastrami, salami dan hot dog.

Makanan daging olahan memang dibuat dari daging atau ikan yang telah dicincang kemudian dihaluskan, diberi bumbu dan zat pengawet.  Ada yang kemudian diasap, dimasukkan dalam selonsong berbentuk bulat panjang simetris, baik yang terbuat dari usus hewan maupun pembungkus buatan (casing). 

Wiseman menambahkan, laporan yang dirilis pihaknya mungkin bukan hal yang baru, tetapi yang justru ironis adalah hampir dua pertiga masyarakat khususnya di Inggris tidak sadar atau waspada akan isu ini.

¨Kami sekarang lebih yakin dari sebelumnya bahwa memakan daging olahahan dapat meningkatkan risiko mengidap kanker usus," ujarnya.

Daging merah, termasuk di dalamnya sapi, babi, domba, sejauh ini dikaitkan dengan kanker usus. Meskipun demikian para ahli merekomendasikan bahwa daging merah boleh dikonsumsi  secara moderat (kurang dari 500g per hari) selama mengandung nutrisi yang sangat penting. 

"Banyak hasil penelitian ilmiah yang menemukan bahwa kanker usus lebih sering ditemukan pada orang yang sering mengonsumsi daging merah dan produk daging olahan," ungkap Sara Hiom, direktur informasi kesehatan Cancer Research di Inggris:

Sementara itu David Spiegelhalter, seorang Professor Public Understanding of Risk dari Cambridge University, berpendapat  satu di antara 18  pria memiliki kemungkinan mengalami kanker usus, sedangkan wanita satu di antara 20.  Hitungan tersebut, menurut   David Spiegelhalter adalah risiko seumur hidup. 

Nilai gizi
Sosis merupakan produk polahan daging yang mempunyai nilai gizi tinggi. Komposisi gizi sosis berbeda-beda, tergantung pada jenis daging yang digunakan dan proses pengolahannya. Produk olahan sosis kaya energi, dan dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, sosis juga memiliki kandungan kolesterol dan sodium yang cukup tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan hipertensi jika dikonsumsi berlebihan.

Ketentuan mutu sosis berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3820-1995) adalah: kadar air maksimal 67 persen, abu maksimal 3 persen, protein minimal 13 persen, lemak maksimal 25 persen, serta karbohidrat maksimal 8 persen. Kenyataannya, banyak sosis di pasaran yang memiliki komposisi gizi jauh di bawah standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan pemakaian jumlah daging kurang atau penggunaan bahan tidak sesuai komposisi standar sosis.

Baca label dengan teliti 
Seiring dengan berkembangnya industri pangan, saat ini telah dikembangkan sebuah inovasi baru, yaitu sosis siap makan tanpa perlu dimasak atau dipanaskan terlebih dulu. Dengan begitu, sosis  dapat dimakan sebagai snack. Saat ini juga mulai banyak dijual sosis steril, yaitu sosis yang dibuat melalui proses sterilisasi sehingga awet untuk disimpan pada suhu kamar, selama beberapa waktu. Sosis tersebut tinggal dibuka dari kemasannya dan langsung dapat dimakan.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan lemak sosis yang cukup tinggi. Konsumsi sosis sebagai snack hendaknya memperhatikan faktor-faktor kesehatan seperti obesitas dan kolesterol. Sosis dengan kadar lemak rendah dapat menjadi pilihan. Karena itu, sebaiknya membiasakan diri membaca label secara seksama sebelum memutuskan untuk membeli dan mengonsumsi sosis.
Sumber :

Memahami Arti Kadar Trigliserida

Dokter merekomendasikan pria dan wanita untuk mengecek kadar lemak darah kolesterol dan trigliserida minimal lima tahun sekali, dimulai sejak usia 20 tahun. Trigliserida adalah jenis lemak tubuh lainnya. Bila jumlah trigliserida berlebihan juga dianggap mempermudah pembentukan aterosklerosis, meski hubungannya belum sejelas seperti angka kolesterol. Untuk mengetahui arti dari hasil tes trigliserida Anda, simak penjelasan berikut.

Kurang dari 150 mg/dL (Normal)
Ini berarti risiko Anda untuk terkena penyakit kardiovaskular rendah. Anda bisa menjaganya selalu dalam kondisi normal dengan cara menjaga berat badan tetap ideal, berolahraga teratur, berhenti merokok dan memiliki pola makan sehat.
150mg/dL - 199 mg/dL (batas atas) Kadar trigliserida dalam range ini tergolong tinggi. Biasanya disebabkan karena faktor gaya hidup dan masih bisa diatasi dengan modifikasi gaya hidup. Jika ada penyakit lain (seperti diabetes, ginjal atau tirodid), atau pun obat-obatan (misalnya betablocker atau kortisosteroid) yang berperan terhadap tingginya trigliserida, sebaiknya konsultasikan pada dokter.
200mg/dL - 499mg/dL (Tinggi)
Kadar trigliserida yang tinggi bisa disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan gaya hidup. Mereka yang masuk dalam kategori tinggi biasanya juga memiliki faktor risiko penyakit jantung seperti lingkar pinggang yang lebar atau resistensi insulin yang menyebabkan diabetes. Perubahan gaya hidup adalah terapi utama yang bisa dilakukan. Obat-obatan terkadang juga diresepkan dokter.
Di atas 500 mg/dL (Sangat tinggi)
Orang yang memiliki kadar trigliserida sangat tinggi biasanya juga menderita diabetes tipe dua dan faktor risiko lain penyakit jantung. Jika kadar trigliserida sudah melebihi 1.000 mg/dl, akan terjadi peningkatan risiko pankreatitis akut atau inflamasi di pankreas. Kadar trigliserida yang sangat tinggi pada umumnya diatasi dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan.
Sumber :
CNN

Kena Kanker, Payudara Pasti Diangkat?

Kanker payudara sampai saat ini masih menjadi momok bagi perempuan. Bukan hanya karena keganasannya, melainkan didiagnosis menderita penyakit ini berarti harus kehilangan payudara di meja operasi. Padahal, jika ditemukan pada stadium dini, keindahan payudara bisa dipertahankan.

Operasi pengangkatan jaringan, menurut dr Saptadi Setia Basuki, Sp.B.Onk, merupakan prosedur utama dalam kasus kanker yang padat seperti kanker payudara. "Operasi merupakan standar terapi kanker payudara di seluruh dunia," katanya di sela acara seminar "Deteksi Dini, Kunci Pencegahan dan Penanganan Kanker Payudara" yang diadakan oleh GE Indonesia di Jakarta, Jumat (21/10/11).
Akan tetapi, saat ini tersedia pilihan pembedahan jaringan kanker dengan mempertahankan payudara atau breast conserving surgery (BCS). Melalui tindakan ini, area sekitar payudara seperti puting dan aerola bisa dipertahankan.
Dijelaskan oleh Saptadi, BCS hanya bisa dilakukan jika ukuran sel kankernya tidak lebih dari 3 sentimeter. "Jika ukuran lebih dari itu berarti tumornya sudah banyak sehingga tidak dimungkinkan. Selain itu, proporsi payudara juga memengaruhi. Artinya, jika ukuran payudaranya kecil maka jika tumornya sudah sebesar 3 sentimeter, berarti jaringan sehatnya sedikit. Maka, ia tidak masuk kategori," papar ahli bedah kanker dari RSPAD Gatot Soebroto Jakarta ini.
Selain ukuran tumor, BCS juga bisa dilakukan jika tumornya berada di bagian tepi serta letaknya terisolasi. Meski begitu, jika pasien terpaksa menjalani masektomi atau pengangkatan payudara, pasien bisa melakukan rekonstruksi payudara dengan implan untuk membentuk kembali payudara. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan rasa percaya diri pasien.
Agar ukuran tumor bisa dideteksi di ukuran yang masih kecil, maka melakukan pemeriksaan payudara wajib dilakukan. "Kanker bisa disembuhkan asalkan ditemukan di stadium awal dan dilakukan terapi pengobatan yang tepat," imbuhnya.
Sayangnya, menurut Saptadi, kebanyakan pasien baru datang ke dokter saat tumornya sudah menyebar dan berada di stadium lanjut. "Banyak pasien yang takut disuruh operasi lalu mencari pengobatan alternatif sehingga tumornya sudah menyebar ke mana-mana dan terlambat untuk diobati," katanya.
Pasien kanker payudara yang terlambat menyadari pertumbuhan sel kankernya pilihannya menjadi terbatas. "Jika sudah stadium lanjut maka sebelum operasi harus dilakukan radiasi dan kemoterapi dulu supaya tumornya mengecil," katanya.
Pada stadium 3, tingkat kesembuhan pasien hanya mencapai 50 persen. Sementara itu, di stadium 4 terapi yang utama adalah paliatif untuk mengurangi nyeri dan memberikan dukungan kepada pasien. "Di stadium lanjut terapinya bukan kuratif, tapi meningkatkan kualitas hidup pasien agar rasa sakitnya berkurang," katanya.