Terapi Ikan Berpotensi Sebarkan Hepatitis dan HIV

Terapi ikan yang selama ini dinilai mampu melancarkan peredaran darah dan menyembuhkan berbagai penyakit ternyata malah mempunyai potensi menyebarkan virus hepatitis dan HIV.

Inilah pendapat beberapa ilmuan Inggris atau The Health Protection Agency (HPA), seperti yang dikutip dari The Straits Times, Rabu (19/10/2011). Dalam penelitiannya, ditemukan bahwa terapi ikan justru memperlemah sistem kekebalan tubuh dari rentan risiko penularan infeksi virus.
Penemuan ini diperoleh dari tangki air yang berisi air untuk menaruh ikan-ikan memiliki banyak mikroorganisme. Selain itu, HPA juga menemukan bahwa infeksi biasanya disalurkan dalam berbagai cara, di antaranya, kontaminasi dari air yang kotor atau dari manusia ke manusia yang berbagi kolam yang sama. (Olivia Lewi Pramesti)

Sumber :National Geographic Indonesia

Menstruasi Tak Lagi Datang

Ny Usi, bukan nama sebenarnya, 65 tahun, masih ingat berbagai perubahan pada tubuhnya saat usianya 54 tahun. Saat itu, siklus menstruasinya mulai tidak teratur. ”Awalnya dua bulan tidak mendapat haid, lalu lima bulan satu kali, dan setelah itu tidak sama sekali,” ujar warga Cibubur tersebut.

Tubuhnya juga kerap sangat kedinginan dan sakit kepala terus mendera. Emosi pun mudah naik mudah turun. ”Saya jadi suka marah tanpa alasan jelas,” ujarnya. Dia mencurigai dirinya memasuki menopause.



”Saya bertanya kepada teman-teman dan masing-masing pengalamannya berbeda. Ada yang kepanasan sampai mukanya menjadi merah seperti kepiting, eh saya malah kedinginan. Karena jawabannya tidak sama, timbul rasa takut apakah yang saya alami normal atau penyakit. Seorang kerabat yang juga dokter meyakinkan saya bahwa gangguan itu bagian dari menopause. Sekitar satu atau dua tahun saya jalani dan setelah itu semua ketidaknyamanan hilang,” katanya.

Tamu bulanan

Terjadinya menstruasi bergantung terutama kepada aktivitas hypothalamus dan anterior pituitary di otak serta kegiatan ovarium. Hypothalamus memproduksi gonadotropin—releasing hormone (GNRH) yang menstimulasi anterior pituitary untuk melepaskan Follicle stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH). FSH memicu pertumbuhan folikel di dalam ovarium. Seiring pertumbuhan tersebut, estrogen diproduksi. Satu folikel kemudian tumbuh dominan.

Folikel yang tumbuh itu meningkatkan produksi estrogen dan menyebabkan proliferasi endometri dan sel payudara. Hal ini diikuti pelepasan sel telur yang matang dari folikel. Progesteron berfungsi menyiapkan endometrium untuk tempat penanaman embrio. Jika tidak terjadi pembuahan oleh sperma, endometrium luruh seiring menurunnya level estrogen dan progesteron. Proses menstruasi berikutnya dimulai lagi.

Prof Dr Med Ali Baziad, SpOG (K) dari Departemen Obstetry dan Gynecology FKUI RSCM, mengatakan, menopause diartikan sebagai terakhir kali seorang perempuan mengalami menstruasi. Menopause merupakan proses alami. ”Biasanya terjadi sekitar umur 50, tetapi dapat terjadi umur 45 hingga 55. Seseorang memasuki masa pascamenopause ketika tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut,” ujarnya dalam acara ”Siap Menghadapi Menopause: Penanganan Tepat Mengatasi Gejala Menopause”.

Berkurangnya hormon estrogen saat menopause menyebabkan berbagai masalah, seperti gejolak panas, sukar tidur, jantung berdebar, pusing, libido menurun, vagina kering, dan tak bisa menahan buang air kecil.

Gangguan jangka panjang, antara lain, osteoporosis (sampai patah tulang). Med Ali Baziad mengatakan, kepadatan tulang turun sebanyak 3 persen setelah 12 bulan tidak menstruasi. Penurunan estrogen berperan dalam peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Tekanan darah meningkat lebih drastis pada perempuan berumur di atas 60 tahun ketimbang pada pria. Tingginya tekanan darah terus-menerus merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner.

Tidak terkait

Menopause dini dapat terjadi kapan saja dan menurut Med Ali Baziad tak terkait dengan menstruasi pertama. Med Ali Baziad menduga, kasus menopause dini antara 35 tahun dan 38 tahun tak lepas dari penggunaan obat pelangsing secara serampangan dan terlalu banyak.

”Perempuan yang kelebihan berat badan ingin menurunkan berat badan secara cepat. Mereka mengonsumsi berbagai obat pelangsing sekaligus, bisa hingga 4-5 macam,” ujarnya.

Konsumsi berbagai jenis obat tersebut diduga menghambat produksi estrogen atau merusak ovarium. Faktor lainnya ialah gaya hidup yang berubah, misalnya pola makan dan aktivitas. ”Belum ada penelitian epidemologi soal itu,” katanya.

Sebaliknya, lambat menopause, misalnya sampai di atas usia 55 tahun, juga berbahaya. ”Masih banyak folikel dalam ovarium sehingga tubuh dipicu hormon. Kondisi ini berisiko menimbulkan kanker,” ujarnya.

Perubahan ke arah gaya hidup sehat membantu perempuan tetap hidup berkualitas dengan pengontrolan berat badan, meningkatkan latihan fisik, penghentian konsumsi rokok, dan mengurangi konsumsi alkohol. Gaya hidup sehat dimulai sedini mungkin. Sejumlah jenis makanan, seperti pepaya, bengkuang, kedelai, kacang merah, dan wortel juga tinggi kandungan fitoestrogen dapat ditambahkan dalam makanan sehari-hari.

Terapi hormon

Tantangan dalam penanganan menopause ialah mengatasi rendahnya estrogen. Salah satu upaya ialah dengan terapi hormon mengandung estrogen atau kombinasi estrogen dan progestogen guna menggantikan progesteron alami. Terdapat berbagai jenis estrogen yang digunakan dalam terapi, sebagian merupakan estrogen alami (estradiol, estrone, dan estriol).

Untuk yang tak lagi mempunyai rahim diberikan estrogen. Sedangkan bagi yang masih mempunyai rahim diberikan estrogen dan progestogen sebagai pengganti progesteron. Dalam jangka panjang, terapi estrogen saja tidak sesuai untuk perempuan yang masih memiliki rahim karena meningkatkan risiko penebalan dinding endometrium dan kanker endometrium.

Terapi hormon berfungsi menggantikan hormon estrogen yang hilang saat menopause sehingga gejala-gejala sementara, seperti gejolak panas, sukar tidur, jantung berdebar, dan tidak bisa menahan air kencing, bisa diatasi. Dapat pula menghambat osteoporosis sebagai akibat jangka panjang menopause. Ada pula hormon berbentuk krim untuk mengatasi kekeringan vagina—biasanya digunakan selama satu bulan sebelum kemudian berhubungan intim.

Tetap ada risiko

Namun, terapi hormon masih menyisakan kontroversi. Studi Women’s Health Initiative selama 15 tahun mengindikasikan, terapi hormon meningkatkan risiko serangan jantung, penggumpalan darah, stroke, dan kanker payudara. Studi itu sendiri dianggap mengandung sejumlah masalah, antara lain rata-rata peserta studi berumur 63 tahun—tidak mewakili perempuan lebih muda (50-59 tahun).

Med Ali Baziat mengakui tetap ada risiko kanker, terutama kanker payudara, tetapi dia meyakini kasusnya tidak tinggi. Perempuan yang mendapat terapi hormon biasanya disarankan menjalani tes kesehatan payudara. Terapi itu manfaatnya lebih besar pada mereka yang tahap menopause awalnya di bawah umur 60 tahun. Di atas usia itu, risiko kardiovaskuler dan kanker payudara bertambah.

Dalam bukunya, Women and Aging, Linda R Gannon menuliskan bahwa pengalaman menopause setiap perempuan berbeda karena keragaman usia, status hormon, penyakit kronis, gaya hidup, dan kondisi psikologis. Dengan demikian, sulit menjawab bahwa terapi hormon sebagai satu-satunya jawaban atau ”zat ajaib” bagi semua perempuan untuk mengatasi masalah menopause.

Menurut Linda, yang saat menulis buku itu sebagai profesor di Departemen Psikologis di School of Medicine Southern, Illinois University, berbagai risiko terapi hormon harus sepenuhnya diinformasikan dan dipahami perempuan. Saat menimbang antara risiko dan manfaat penggunaan hormon estrogen itu, pada akhirnya perempuan itu sendiri yang memahami kebutuhan tubuhnya.

Ny Usi memilih tidak menggunakan terapi itu sekalipun tahu. Dia meyakini menopause sebagai bagian dari perkembangan alami dalam tubuh perempuan dan kesehatannya tetap baik. ”Saya tidak merasa ada gangguan yang berat dan secara umum tubuh saya sehat untuk perempuan seusia saya, jadi merasa tidak butuh terapi hormon,” ujar perempuan yang baru saja mendapat gelar sarjana di bidang teologi dan kini amat aktif tersebut.

 Indira Permanasari

Ancaman Penyakit di Masa Menopause

Tidak mudah menjadi tua, terutama bagi perempuan. Setelah menopause, ancaman berbagai penyakit muncul. Masalah-masalah kesehatan itu terutama berhubungan dengan penurunan kadar estrogen dalam tubuh.

Apa saja efek jangka panjang bagi kesehatan akibat menopause?

- Osteoporosis
Salah satu akibat jangka panjang menopause adalah hilangnya kepadatan tulang yang berkelanjutan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kepatahan atau keretakan pergelangan pinggul dan punggung. 

Pria dan wanita akan mencapai puncak kepadatan tulang di usia 20-an tahun. Hilangnya kepadatan tulang yang berhubungan dengan umur dimulai sekitar usia 30-an. Oleh sebab itu, penting untuk melakukan tindakan sedini mungkin untuk menghindari terjadinya osteoporosis.

- Hipertensi
Wanita di usia menopause juga berisiko mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi) yang bisa menyebabkan stroke dan serangan jantung apabila tidak diobati. Tekanan darah yang meningkat adalah salah satu faktor risiko yang paling penting terhadap penyakit jantung koroner dan stroke.

- Penyakit kardiovaskular
Semua perempuan, terutama setelah menopause, perlu mewaspadai dan mengenali gejala-gejala serangan jantung karena hormon estrogen berkurang. Hormon ini bersifat melindungi dan membuat pembuluh darah koroner lebih lebar dan mengurangi risiko penyakit jantung. Namun, saat hormon estrogen menurun, risiko terkena penyakit jantung meningkat dua hingga tiga kali lipat.
Menopause adalah saat kritis dalam kehidupan wanita yang mendekati usia paruh baya yang memerlukan penanganan tepat dan sesuai. Para dokter menganjurkan wanita menopause untuk mengubah gaya hidup mereka, seperti mengontrol berat badan, meningkatkan aktivitas fisik, serta menghindari stres.
Salah satu cara untuk mengatasi gejala-gejala menopause yang cukup efektif adalah terapi hormon estrogen yang bertujuan untuk menggantikan penurunan estrogen yang terjadi pada saat menopause. Meski demikian, tidak semua wanita bisa melakukan terapi sulih hormon ini, terutama mereka yang memiliki riwayat keluarga menderita kanker payudara, atau merokok.
Narasumber: Prof.dr.Ali Baziad, Sp.OG dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Tempe Kurangi Risiko Penyakit Jantung

Menopause merupakan proses alamiah pada wanita yang ditandai dengan penurunan fungsi ovarium yang mengakibatkan penurunan produksi estrogen. Berkurangnya estrogen ini membawa berbagai masalah, salah satunya meningkatnya risiko penyakit jantung.
Penurunan produksi estrogen menyebabkan gangguan metabolisme lemak darah sehingga akan memperburuk profil lipid darah dan oksidasi dalam tubuh sehingga perempuan rentan menderita penyakit jantung koroner
.  
Keterkaitan inilah yang mendorong Diah Mulyawati Utari melakukan penelitian studi doktoralnya pada Program Studi Gizi Manusia, Sekolah Pascasarjana (SPs) Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengusung khasiat tempe bagi wanita menopause.
Judul disertasi yang disusunnya, yakni "Efek Intervensi Tempe terhadap Profil Lipid, Superoksida Dismutase, LDL Teroksidasi dan Malondialdehyde pada Wanita Menopause", ini dirilis bagian Hubungan Masyarakat IPB melalui surat elektronik kepadaKompas, Kamis (7/7/2011).  
Berikut paparannya. Lipid dalam tubuh mudah teroksidasi sehingga mengakibatkan terbentuknya peroksidasi lipid yang ditandai dengan peningkatan malondialdehyde (MDA). Tingginya kadar MDA dapat digunakan sebagai indikator radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas yang berlebih adalah faktor risiko penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, stroke, dan kanker. Lipid khususnya dalam kolesterol-LDL (K-LDL) yang dikenal sebagai kolesterol jahat merupakan target utama oksidasi.  
 Terjadinya oksidasi pada K-LDL merupakan salah satu faktor utama penyumbatan pembuluh darah. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut diperlukan adanya antioksidan, salah satunya adalah antioksidan endogen yaitu superoksida dismutase (SOD) yang merupakan pertahanan pertama terhadap proses oksidasi di dalam tubuh.
Dikatakannya, dalam 10-12 tahun terakhir, penelitian tentang manfaat protein kedelai dan isoflavon semakin meningkat dan mendalam, dan membuktikan bahwa konsumsi kedelai tidak saja memperbaiki beberapa aspek kesehatan pada wanita menopause, tetapi juga memperbaiki kesehatan jantung.
Kita ketahui, tempe merupakan pangan tradisional yang sangat populer di Indonesia. Proses fermentasi membuat kadar asam amino, asam lemak, dan isoflavon pada tempe jauh lebih tinggi dibanding kedelai.
Dikatakannya, beberapa penelitian tentang intervensi tempe telah dilakukan di Indonesia, tetapi sejauh ini belum diketahui pengaruh tempe secara komprehensif terhadap profil lipid, SOD, MDA, dan LDL teroksidasi pada wanita menopause sebagai kelompok berisiko terserang penyakit jantung koroner. "Saya tertarik meneliti hal ini," ujarnya.
Penelitiannya dilakukan di Kota Bogor dengan jumlah total sampel 53 wanita menopause. Para wanita menopause ini diberikan 160 gram tempe setiap hari selama empat minggu.
Jumlah tersebut setara dengan empat potong tempe ukuran sedang. Tempe ini dikukus selama 10 menit kemudian dicampur dengan bumbu tertentu sehingga menjadi makanan siap santap.
Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah perempuan yang menopause alami, rentang menopause 1-5 tahun, salah satu dari profil lipid tidak normal, tidak sedang sakit atau punya riwayat penyakit degeneratif, tidak mengonsumsi obat dan suplemen, tidak menggunakan terapi estrogen, bukan penganut vegetarian, dan bersedia memenuhi peraturan selama penelitian. Sampel dijaring melalui pos pembinaan terpadu aktif yang ada di Kota Bogor. 
Analisis pangan tempe menunjukkan bahwa kandungan asam amino tertinggi pada tempe adalah arginin dan asam lemak tertinggi adalah asam linoleat. Tempe juga kaya akan isoflavon dan kadarnya relatif dapat dipertahankan jika tempe diolah dengan pengukusan (bukan penggorengan).
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pemberian tempe sebanyak 160 gram setiap hari selama empat minggu dapat memperbaiki profil lipid yaitu menurunkan kadar kolesterol total, K-LDL (kolesterol jahat), dan trigliserida. tempe ini juga dapat meningkatkan aktivitas enzim antioksidan SOD serta menurunkan MDA dan oksidasi pada LDL. Hasil penelitian ini secara bermakna menunjukkan bahwa tempe mempunyai kemampuan untuk menurunkan faktor risiko penyakit jantung koroner.
Dari penelitian ini, Diah menyarankan agar pemerintah meningkatkan sosialisasi tempe sebagai makanan yang mempunyai manfaat bagi kesehatan. Masyarakat disarankan untuk meningkatkan konsumsi tempe setiap hari secara terus-menerus, khususnya pada wanita menopause serta kelompok lain yang memiliki risiko tinggi terkena penyakit jantung koroner.
Diah juga berpesan, untuk mendapatkan efek maksimal bagi kesehatan, tempe sebaiknya diolah dengan cara dikukus dan menghindari pengolahan dengan cara menggoreng. Mengenai jumlah tempe yang dikonsumsi, Diah merekomendasikan sekitar 150-160 gram setiap hari atau setara dengan 3-4 potong tempe ukuran sedang.

Manfaat Kedelai Bagi Kesehatan

Kita sering mengatakan bahwa kedelai dapat menjadi pengganti daging bagi mereka yang tergolong vegetarian. Kedelai merupakan gudang nutrisi dan Anda bisa mendapatkan manfaat kesehatan dari sejumlah produk berbasis kedelai seperti susu kedelai, tahu, tauge, kacang, saus dan tepung.

Kedelai adalah jenis kacang-kacangan yang banyak terdapat di Asia Timur. Mereka diklasifikasikan sebagai biji minyak. Kedelai dianggap sebagai protein lengkap karena adanya jumlah asam amino esensial. Manfaat kedelai ditemukan pada negara-negara seperti China dan Jepang, di mana masyarakatnya lebih kecil terkena penyakit jantung, osteoporosis, kanker payudara dan kelenjar prostat.
Berikut sejumlah manfaat kesehatan yang dapat Anda peroleh dari kedelai :
1. Antioksidan
Kedelai mengandung senyawa yang disebut isoflavon, di mana bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan. Senyawa ini bertanggung jawab untuk memperbaiki sel dan mencegah kerusakan sel yang disebabkan oleh polusi, sinar matahari dan proses tubuh yang normal.
2. Mengurangi resiko penyakit jantung
Protein dan isoflavon hadir dalam kedelai, membantu dalam mengurangi kolesterol LDL (kolesterol "jahat") serta penurunan kemungkinan pembekuan darah. Hal ini pada gilirannya, mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke. Penelitian menunjukkan, konsumsi susu yang mengandung 25 gram protein kedelai selama sembilan minggu mengakibatkan penurunan 5% kolesterol LDL rata-rata.
3. Mencegah kanker
Isoflavon bertindak sebagai agen antikanker yang melawan sel-sel kanker. Melindungi tubuh dari kanker hormon seperti itu dari rahim, payudara dan prostat.
4. Membalikkan efek endometriosis
Kedelai membantu dalam menunda aksi estrogen alami tubuh, yang bertanggung jawab untuk mengurangi atau mencegah rasa sakit selama periode menstruasi (perdarahan berat) dan gejala lainnya pada wanita.
5. Mencegah osteoporosis
Protein kedelai membantu dalam penyerapan yang lebih baik kalsium dalam tulang. Isoflavon yang hadir dalam makanan kedelai berfungsi untuk memperlambat kehilangan tulang dan menghambat kerusakan tulang yang pada gilirannya mencegah osteoporosis.
6. Mengatasi gejala menopause
Kandungan isoflavon pada kedelai membantu untuk mengatur estrogen. Penelitian telah menemukan bahwa isoflavon kedelai dapat mengurangi  rasa panas pada badan (hot flushes) pada wanita menopause.
7. Memberi efek baik untuk diabetes dan sakit ginjal
Protein dan serat yang larut dalam kedelai, mengatur kadar glukosa darah dan filtrasi ginjal, dengan demikian mengendalikan diabetes dan penyakit ginjal.
8. Menjaga berat badan
Kandungan serat yang tinggi pada kedelai sebagai alat untuk manajemen (mengatur) berat badan. Ini adalah indeks glisemik rendah (GI) makanan yang mengatur gula darah dan fluktuasi insulin. Sehingga dapat membantu mengontrol rasa lapar. Hal ini akan sangat membantu Anda dalam proses penurunan berat badan.
Sumber :

Khasiat Edamame Tidak Sepele

Dulu kedelai rebus sering dianggap makanan murahan. Mereka yang mengonsumsi makanan ini juga dianggap kurang modern. Padahal, kedelai merupakan sumber protein, lemak, serat, dan antioksidan terbaik.

Seiring meningkatkan pengetahuan gizi masyarakat, kini kedelai kembali naik daun. Apalagi sejak kepopuleran edamame (kedelai Jepang) sebagai camilan. Edamame dipanen ketika kedelai ini baru 80 persen matang. Yang membedakan edamame dengan kedelai lain adalah bijinya lebih besar, teksturnya halus, rasanya lebih manis dan lebih mudah dicerna.
Edamame mengandung antioksidan dan isoflavon. Konsumsi makanan yang kaya akan antioksidan dikatikan dengan penguatan sistem imun tubuh dan mengurangi risiko kanker.
Isoflavon juga terbukti mengurangi risiko kanker prostat dan kanker payudara, mencegah penyakit jantung, menurunkan tekanan darah dan mengurangi gangguan saat menopause.
Sementara itu kandungan protein di dalam edamame mencapai 36 persen, jauh lebih tinggi dibanding kedelai matang. Panganan ini juga mengandung minyak yang rendah. Dikombinasikan dengan kandungan proteinnya yang tinggi, camilan ini sangat ideal untuk mereka yang ingin mencari panganan rendah lemak tapi tinggi protein.
Penganut vegetarian dan vegan yang ingin mengasup sumber protein juga disarankan mengonsumsi edamame karena kandungan proteinnya lengkap. Ini berarti ia mengandung 9 asam amino esensial yang diperlukan tubuh.
Edamame juga tidak mengandung kolesterol dan sedikit lemak jenuh. Panganan ini juga kaya akan vitamin C dan B. Kandungan lainnya adalah mineral penting seperti kalsium, zat besi, atau magnesium. Ia juga megnandung vitamin K dan asam folat.
Terakhir, menambahkan edamame dalam pola makan Anda akan meningkatkan asupan serat. Setengah cangkir edamame mengandung 4 gram serat. Kandungan serat diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan saluran cerna hingga menurunkan kolesterol
Alasan lain untuk mengasup edamame adalah ia membuat perut terasa kenyang lebih lama.
Sumber :LiveStrong